Ini atau Itu? : Panduan Memilih Skincare secara Rasional (Bagian 2)

This or That? : The Guideline to Choose Your Skincare Rationally (Part 2)

Selamat datang di Panduan Memilih Skincare secara Rasional bagian 2!

Menentukan tujuan pribadi sangat membantu dalam memilih skincare mana yang paling cocok dengan kebutuhan kita. Pada titik ini, saya berasumsi kamu sudah tahu kulit seperti apa yang kamu inginkan dan tipe produk skincare seperti apa yang kamu butuhkan. Kalau kamu masih merasa belum terlalu yakin tentang apa yang kamu inginkan/butuhkan, saya sarankan untuk membaca Panduan Memilih Skincare secara Rasional Bagian 1 sebelum melanjutkan.

Daftar Isi:

  1. Pahami apa yang kamu inginkan/butuhkan – lihat bagian 1
  2. Ketahui tipe produk skincare yang kamu butuhkan – lihat bagian 1
  3. Buat wishlist produk skincare
  4. Ketahui apa yang kamu anggap penting (“kriteria”)
  5. Buat prioritas
  6. Evaluasi

Pada panduan bagian 2 ini, kita akan menggunakan MCDA/Multiple Criteria Decision Analysis untuk membantu memilih skincare untuk dibeli. Biarpun judul metodenya ‘serius’ banget, sebetulnya metode ini cukup sederhana dan berguna!

Apa sih maksudnya “Kriteria”?

Banyak hal yang kita pertimbangkan saat memilih skincare. Buat sebagian orang, pengalaman yang ‘mewah’ dan menyenangkan itu penting. Buat yang lainnya, nggak masalah kalau skincare-nya bau tai sapi, asal komposisinya terbukti efektif menurut ScienceTM. Yang lainnya agak longgar soal komposisi atau tekstur, asal harga produknya terjangkau. Pertimbangan-pertimbangan inilah yang kita sebut sebagai kriteria. Karena kita menggunakan lebih dari satu kriteria, makanya namanya “Multiple-Criteria”.

Sederhananya, Multiple Criteria Decision Analysis adalah suatu cara untuk membuat keputusan berdasarkan analisis seberapa ‘baik’ sebuah pilihan, berdasarkan beberapa kriteria.

Membuat wishlist produk skincare

Ini bagian paling asyik : Bikin daftar semua produk yang diinginkan! Tapi daripada satu daftar panjang berisi semua jenis produk, ada baiknya kita membuat wishlist khusus berdasarkan tipe produk skincare. Buatlah daftar khusus untuk cleanser, toner, treatment, moisturizer, dan sunscreen. Semakin banyak yang kamu ketahui tentang tipe produk dan kebutuhan kulitmu, kamu bisa membuat daftar yang lebih spesifik. Misalnya, alih-alih wishlist produk ‘treatment‘ secara umum, kamu bisa membuat wishlist spesifik untuk “hydrating serum” atau “retinol serum“.

Kenapa mesti bikin wishlist khusus untuk tipe produk yang berbeda? Karena kita akan membandingkan produk berdasarkan kriteria tertentu. Membandingkan tipe produk yang berbeda, misanya serum dan cleanser, nggak akan apple-to-apple. Fungsi kedua tipe produk tersebut berbeda dan kriteria yang kamu anggap penting untuk masing-masing tipe mungkin berbeda juga. Misalnya, saya nggak peduli apakah cleanser saya punya berbagai ekstrak tumbuhan eksotis, karena toh bakal saya bilas sebelum dia bisa menyerap. Sebaliknya, ekstrak tumbuhan eksotis bisa jadi sesuatu yang menarik dan dibutuhkan dalam produk serum.

Berikut adalah contoh wishlist skincare sederhana. Saya akan menggunakan wishlist ini dalam contoh-contoh berikutnya .

Vera’s Brightening Serum/Ampoule Wishlist
1. The Saem Brightening Ampoule
2. It’s Skin LI Effector
3. Missha Time Revolution Night Repair Borabit Ampoule

Ketahui apa yang penting bagimu(“Kriteria”)

Banyak kriteria yang perlu dipertimbangkan saat memilih skincare, dan pertimbangan setiap orang pastinya berbeda. Inilah kenapa saya nggak cuma mengandalkan situs agregator review skincare atau rating dari beauty influencer. Indikator skornya seringkali nggak konsisten antara satu produk dengan produk lainnya, jadi rating berupa angka nggak terlalu bermakna.

Terus, gimana caranya mementukan kriteria skincare buat diri sendiri?Mulailah dengan mendaftar karakteristik produk yang ideal menurutmu. Berapa banyak jumlah maksimal kriteria yang kita punya? Nggak ada batasnya sih, tapi kalau kebanyakan bisa ribet juga, jadi saya sarankan nggak lebih dari 10. Kamu juga bisa memiliki kriteria yang berbeda untuk jenis produk skincare yang berbeda.

Berikut adalah beberapa kriteria skincare umum yang saya pakai sebagai referensi. Kriteria berikut bisa digunakan untuk semua jenis produk skincare, cuma mungkin untuk jenis yang berbeda, definisinya perlu disesuaikan. Masing-masing akan saya jelaskan secara singkat:

1. Harga

Nama belakang saya bukan Bakrie, jadi harga masih merupakan faktor yang penting. Semakin terjangkau, semakin bagus. Jumlah yang rela saya bayarkan berbeda untuk setiap jenis produk. Saya mungkin masih oke bayar Rp 400.000 buat serum, tapi Rp 150.000 buat cleanser udah berasa kemahalan.

2. Komposisi

Banyak hal yang bakal mempengaruhi bagaimana efek sebuah produk ke kulit kita, dan komposisi bahan-bahan membantu kita untuk memahami gambaran besarnya. Paling nggak, kita jadi paham kenapa produk tertentu mengklaim berefek mencerahkan, misalnya, dan kita bisa ngukur sendiri apakah itu adalah hal yang masuk akal. Saya cenderung memberi rating lebih tinggi pada produk yang mengandung bahan-bahan yang udah jelas efektif, dan dibuktikan dalam studi ilmiah. Cuma kadang-kadang ‘star ingredients‘ ini dicantumkan di bawah pengawet, yang artinya bahan tersebut cuma berupa remah-remah di dalam produk. Dalam kasus seperti ini, biasanya keberadaan bahan tersebut nggak saya anggap serius.

Khusus cleanser, saya sih peduli amat sama ‘star ingredients‘; saya lebih memperhatika surfaktan yang mereka pakai. Saya memberi rating lebih tinggi pada cleanser yang menggunakan surfaktan lebih gentle (biasanya yang nggak mengandung sodium lauryl sulphates/SLS dan sobat-sobatnya)

3. Experience

Ini adalah kriteria subjektif yang mencakup tekstur, aroma, dan ‘feel’ setelah produk diaplikasikan ke kulit. Kalau saya kebetulan belum pernah mencoba produk tersebut, saya akan membaca review dari skincare blogger yang saya percayai (yang tipe kulit/kebutuhannya mirip sama saya) dan menggunakan pendapat mereka sebagai pertimbangan.

4. Environmentally Friendly

Saya cenderung memberi rating lebih tinggi pada produk yang punya kebijakan ‘ramah lingkungan’. Compostable sheet mask? I’m in. Kampanye ‘Kembalikan Botol Bekas’/’Gunakan Kemasan Sendiri’? Langsung dah jadi pelanggan setia. Kebijakan ramah lingkungan lainnya (misalnya CSR, donasi) juga bisa jadi nilai tambah.

5. Brand ambassador/outlook

Gambarnya bilang “Welcome” tapi duit saya bilang “Goodbye”.

Orang bilang saya lebay, tapi menurut saya, ini adalah hak saya sebagai pelanggan. Ada waktunya saya menahan diri dari membeli produk brand tertentu karena saya nggak setuju sama sikap politik mereka/pilihan brand ambassador mereka. Sebaliknya, pemilihan boyband Seventeen sebagai brand ambassador The Saem juga sangat mempengaruhi keputusan belanja skincare saya. Ini bukan sesuatu yang salah atau memalukan kok, no one has right to judge you! Bagaimana pun, kriteria adalah semua faktor yang penting buat kamu, apa pun itu

Setelah kita mengidentifikasi semua kriteria yang penting buat kita, mari lanjutkan ke tahap selanjutnya…

Buat Prioritas

Setelah membuat daftar kriteria, kamu mungkin menyadari bahwa beberapa kriteria lebih penting daripada yang lainnya. Jadi, sebelum mengurutkan produk, kita akan mengurutkan prioritas kriteria terlebih dahulu!

Saya menggunakan MeenyMo, situs yang berguna banget untuk prioritisasi. Untuk memakai MeenyMo, kamu perlu login dengan alamat facebook/google/e-mail tapi setelahnya kamu bisa menggunakannya secara gratis. Untuk menggambarkan cara kerjanya, saya akan menggunakan contoh wishlist dan kriteria pribadi yang sebelumnya sudah saya jelaskan.

1. Masukkan Kriteria

Masukkan daftar kriteriamu. Kamu juga perlu mendefinisikan indikator/tingkat tiap kriteria, dari yang paling bagus ke yang paling jelek. Misalnya, pada kriteria ‘harga’, saya membaginya menjadi murah, sedang, dan mahal. Akan lebih membantu kalau saya punya pengertian jelas bagi-masing-masing tingkat (misalnya “murah” berarti bisa didapatkan dengan harga dibawah Rp 100.000).

2. Masukkan produk yang akan dipertimbangkan

Masukkan data produk yang ada dalam wishlist-mu. Setelah kamu memasukkannya, klik ‘option‘, dan kamu akan menemukan form yang perlu diisi dengan informasi produk dan nilai produk tersebut dalam masing-masing kriteria yang sudah dimasukkan pada tahap 1.

Sebagai contoh, pada gambar di bawah, saya memasukkan data The Saem Whitening Power Ampoule. Harga retail saat ini sekitar Rp 230.000/kurang lebih $17, berarti dia masuk kategori ‘medium’. Kemudian dia mengandung segambreng ekstrak eksotis dan beberapa bahan yang sudah dikenal mencerahkan seperti niacinamide, maka pada kriteria ‘ingredients‘ saya mengategorikannya sebagai ‘mostly promising ingredients‘. Begitu seterusnya untuk semua kriteria.

3. Set criteria preference

MeenyMo akan menampilkan serangkaian pertanyaan untuk menentukan kriteria mana yang paling penting buatmu. Kamu perlu memilih mana yang menurutmu paling baik, atau kalau bener-bener nggak bisa memilih, kamu bisa klik ‘They’re equal‘. Ingat, semakin banyak kriteria dan indikator yang kamu punya, akan semakin banyak juga opsi yang ditampilkan. Setelahnya, mereka akan menampilkan kriteria apa yang paling penting buatmu berdasarkan jawabanmu sebelumnya. Tenang, kalau nggak sreg, proses ini bisa diulang lagi.

Jadi kriteria paling penting buat saya adalah brand ambassador. Kok saya nggak kaget ya, haha

4. Selamat, kamu selesai membuat prioritas!

Setelah menunjukkan kriteria prioritas, MeenyMo akan menampilkan secara otomatis semua produk dalam wishlistmu berdasarkan performa mereka di setiap kriteria. Hasil akhirnya kurang lebih akan terlihat seperti ini :

The Saem Ampoule dapat ranking 1 karena skornya paling tinggi pada kriteria-kriteria yang saya anggap paling penting. Performanya di setiap kriteria bisa dilihat pada bar chart biru kecil di sebelah nama produk. Jadi, berdasarkan keinginan dan kebutuhan saya, lebih masuk akal kalau saya memilih membeli The Saem Ampoule duluan dibandingkan produk lainnya dalam daftar (walaupun kalau duitnya ada sih nggak ada yang ngelarang untuk beli semuanya, MUHAHAHAHA).

Hasil proses ini bisa disimpan di akun MeenyMo. Kalau suatu saat kamu ingin nambah produk ke wishlist, ganti kriteria, atau indikatornya, bisa ditinggal dibuka dan diubah aja seperlunya.

Sayangnya, dari MeenyMo nggak bisa sharing template, tapi kamu bisa mengakses contoh lengkap saya di sini.

Evaluasi

Masih ada tahap lain? Bukannya prioritas produknya udah ketemu ya?”

Yep. Saya cuma mau ngingetin, hasil yang kamu dapatkan dari proses prioritisasi ini nggak permanen. Kebutuhan kulit mungkin berubah. Kriteria tertentu mungkin menjadi makin relevan seiring berjalannya waktu, atau malah sebaliknya. Beberapa kriteria mungkin perlu didefinisikan ulang. Misalnya kalau ‘harga’ adalah salah satu kriteria penting, definisi ‘murah’ menurutmu mungkin berubah (moga-moga karena kamu bertambah kaya, hehe). Makanya, penting juga untuk mengevaluasi prioritasmu secara berkala!

Jadi itulah semua tahap yang perlu dilakukan untuk memilih produk skincare secara rasional! Apakah tahapannya terlalu rumit? Apakah tahapan ini bisa sedikit membantu? I’d love to hear from you in the comments! 🙂

10 Replies to “Ini atau Itu? : Panduan Memilih Skincare secara Rasional (Bagian 2)”

  1. Ini dibutuhin banget buat yang suka keracunan :”) pernah bahas pakai teori socio-behaviour, jadi diliat dulu urgency-nya, abis itu crosscheck lagi IL nya, ke tahap selanjutnya ada subsitusi dari brand lain gak yg harganya lebih affordable, atau kl misal ada yang unggul segi IL bisa dimasukin ke kategori ini, kasarnya begitu. Ini perlu banget sih diterapkan, tapi ada juga beberapa oranv yang “self love”-nya adalah mengumpulkan skincare, aku gak paham ini bisa masuk betulan selflove atau nggak :”)

  2. Baru tahu ada platform yg bisa bikin decison gitu. Waaahh menarik banget sih.

    1. Decision gaes hehe maap typo 😝

      1. nice info! kalau aku pribadi selektif banget di bagian harga terutama buat produk yang pasti dipakai tiap hari dan cepet habisnya. kayak sunscreen sama cleanser aku selalu pasang harga maksimal yang paling murah dibanding yang lain 😁

  3. Whoah Thank you udah sharing hal ini, jujur ini berguna banget buat aku yanng suka impulsif beli perintilan skincare atau makeup. Menarik banget asli, otw check nih

  4. betul kak Vera, rating itu sifatnya subjektif dan gabisa jadi patokan. akupun mau beli cleanser 100k aja mikir-mikiiiirr :)), serum mihil pun masih mikir ribuan kali, bacain review orang2 dulu sampe yakin 😂

  5. Hhuwwaa sangat membantu sekali, aku adalah tipe orang yang suka lemah lihat kemasan or ingredients unik, jadi asal beli aja dan kemudian menggunung

  6. nice info! kalau aku pribadi selektif banget di bagian harga terutama buat produk yang pasti dipakai tiap hari dan cepet habisnya. kayak sunscreen sama cleanser aku selalu pasang harga maksimal yang paling murah dibanding yang lain 😁

  7. Emang kita sebenernya ga boleh impulsif beli skincare, beli yang sesuai kebutuhan aja. Nice info!

  8. bener banget kak Veraa, beli skincare tuh kalo butuh aja yaa, jangan mudah teracuni belum tentu yg mau dicoba semuanya cocok sama kulit kita

This Snarker loves comments! Please leave yours below

%d blogger menyukai ini: