Nivea White Oil Control Make Up Clear 2 in 1 Foaming Cleanser : A Short(-ish) Review

Nivea White Oil Control Make Up Clear 2 in 1 Foaming Cleanser : A Short(-ish) Review

 

Beberapa minggu yang lalu, saya dengan bijaknya memutuskan untuk menggunakan anggaran skin care untuk persediaan hand cream buat setahun. Ini menyebabkan saya harus berhemat untuk bagian skin care routine  lainnya (dan uang makan siang)… jadi saya bakal jujur aja nih, produk yang saya review sekarang ini tidak dibeli dengan uang saya sendiri. Sebenarnya… saya semacam mengambil Nivea White Oil Control Make Up Clear 2 in 1 Foaming Cleanser ini dari kamar mandi ibu saya. Nivea cleanser ini tergeletak begitu aja di atas counter, tepat saat saya sedang kehabisan second cleanser saya yang biasa. Menggoda banget bagi saya yang qizmin ini untuk dibawa pulang.

Nivea cleanser ini ada pada waktu dan tempat yang tepat, tapi apakah dia adalah produk yang tepat?

Cleanser : Where I Prefer to Save Money

…jadi saya bisa menggunakan uang lebih banyak untuk kebutuhan yang lebih esensial seperti satu box berisi hand creams dengan wajah member Seventeen di kemasannya, layaknya fangirl matang usia dua puluhan pada umumnya.

Pembersih wajah memang didesain untuk dibilas bersih, jadi nggak perlu-perlu amat penuh ekstrak eksotis dan komposisi yang terlalu wow. Saya juga nggak mengharapkan mereka bisa secara ajaib gitu menghapus hiperpigmentasi di wajah saya, atau bikin kulit saya kenyal awet muda selamanya. Saya nggak minta banyak dari pembersih wajah yang saya pakai, beneran deh, mereka cuma perlu :

1. membersihkan wajah dengan baik. Biasanya saya menggunakan first cleanser berbahan dasar minyak untuk menghapus lapisan sunscreen dan make-up harian saya (yang agak minim). Jadi saya cuma mengharapkan second cleanser/foaming cleanser untuk membersihkan sisa-sisa first cleanser. 

2. nggak terlalu bikin kulit kering. Jadi inget sensasi kulit kering dan kesat setelah saya dengan begonya cuci muka pake face scrub dua kali sehari zaman masih remaja dulu. Saya nggak rindu sama sekali masa-masa naif itu; bye bye and thank you.

3. menggunakan surfaktan yang cenderung “lembut” dan nggak mengandung SLS (sodium lauryl sulfate). Ini sebenarnya kriteria pertama saya : kalau saya nemu SLS di komposisi pembersih wajah yang mau saya beli, saya buru-buru kabur tanpa pernah lagi menoleh ke belakang. Ada pengecualian sih, misalnya waktu dulu dokter kulit saya merekomendasikan cleanser yang mengandung SLS. Saya nurut karena salah satu dari kami punya gelar dokter spesialis, dan itu bukan saya.

SLS adalah foaming agent yang baik, tapi sebagai surfaktan dia cenderung ‘keras’ dan gampang bikin kulit iritasi dibandingkan jenis surfaktan lainnya. Taraf ‘keras’-nya itu bisa dikurangi dengan formulasi yang baik sih, tapi saya lebih nggak mau ambil risiko aja. Buat penggunaan sehari-hari (dan tanpa resep dokter) saya lebih memilih alternatif yang lebih ringan aja.

4. punya pH rendah (<5.5). Singkatnya, pH permukaan kulit kita agak asam, jadi menggunakan pembersih yang basa bisa merusak keseimbangan pH kulit. Kenaikan pH kulit membuatnya jadi lingkungan yang kondusif untuk berkembangbiaknya Proprionibacterium acnes (a.k.a. bakteri biang jerawat), dan pastinya saya nggak mau itu terjadi. Silakan baca blog post yang jelas banget dari Cat (Snow White and The Asian Pear) untuk informasi yang lebih komprehensif mengenai pH pembersih wajah dan bagaimana pengaruhnya terhadap kulit.

Itu adalah persyaratan dasarnya. Saya masih punya poin tambahan untuk :

1. wangi yang enak. Secara pribadi saya sebenarnya lebih suka pembersih wajah tanpa wangi, tapi kalau harus ada wanginya, ya minimal wanginya yang enak lah.

2. tekstur yang nyaman. Beberapa pembersih wajah terasa lebih mewah daripada yang lain. Berasa cantik instan 100x aja walaupun cuma cuci muka. Your subjective experience matters ♥.

Jadi bagaimana performa pembersih wajah ini dalam kriteria-kriteria yang disebut di atas? Saya bakal menilai performa pembersih wajah Nivea ini pada masing-masing kriteria berdasarkan standar di bawah ini :

0 = nope

1 = K, acceptable

2 = nice!

Let’s get started!

 

1. Membersihkan wajah dengan baik

Apabila kamu melakukan double cleanse seperti saya, tugas foaming cleanser cenderung sederhana. Sebagian besar make up udah dihapus oleh first cleanser (biasanya  micellar water/oil based cleanser), jadi foaming cleanser cuma perlu membersihkan sisanya aja (plus sisa first cleanser). Untuk urusan sederhana ini, Nivea foaming cleanser ini melakukan tugasnya dengan baik.

Meskipun begitu, cleanser ini juga mengklaim sebagai “white oil control 2 in 1 make up remover” jadi karena saya lagi lebay, kita akan lihat juga seberapa bagus sih performanya kalau digunakan sebagai solo cleanser?

Di bawah ini ada satu wajah yang full make up (secara harfiah memang digambar pake make up hahah) :

Maaf ya saya nggak pake beneran di wajah saya, karena saya nggak mau kalian terdistraksi sama skill make up saya yang amburadul. Mohon agar cukup puas dengan chibi hijabi ini. Gambar chibi hijabi sebagai pengganti wajah pake make up beneran terinspirasi dari Cat (Snow White and The Asian Pear), dan gambar dia jauh lebih bagus daripada saya, hahaha.

Saya mencoba menggunakan make up saya yang paling heavy duty, tapi jadinya tetep kelas ringan sih, haha. Mohon perhatikan bahwa jika Anda menggunakan make up yang lebih berat dan waterproof, mungkin performa produk ini nggak sama (pls double cleanse instead ♥!)

Chibi hijabi digambar menggunakan :

  • Latar belakang : Sunplay High UV Defense SPF 99+ PA++++ (bisa dilihat dari white cast di punggung tangan kalau dibandingkan dengan jari), dibiarkan sampai kering (rasanya seperti selamanya, ya Allah, tobat), kemudian dilapis dengan Innisfree no sebum mineral powder
  • Alis : Silkygirl Hi-definition brow liner 01 Soft Black
  • Mata : Catrice Waterproof Glam & Doll Super Black Liner
  • Bibir : Tony Moly Liptone Get It Tint (Red Hot)
  • Pipi: The Saem Cover Perfection Tip Concealer no. 2
  • Kerudung Ungu Bling Bling : Emina Pop Rouge Eyeshadow (Romantic)

Dan inilah tampilan chibi hijabi setelah dibersihkan dengan setitik cleanser ini, dibusakan dulu di telapak tangan sebelum digosokkan ke punggung tangan (seperti biasanya kalau saya pakai foaming cleansers).

Seperti yang dapat dilihat di atas, sebagian besar produk terhapus, kecuali Tony Moly liptint. Beberapa bagian punggung tangan saya masih ada sisa-sisa sunscreen, jadi mungkin nggak cukup kuat untuk menghapus mineral/physical/inorganic sunscreen.

Simpulannya, saya rasa kekuatan pembersihan cleanser ini cukup bagus. Liptint Tony Moly emang kuat banget aja (Saya selalu pakai lip scrub setiap habis pakai liptint ini). Sementara itu untuk menghapus sunscreen, mungkin cuma butuh lebih aja menggosoknya. Saya akan tetap lebih menyarankan untuk double cleanse, tapi kalau udah kepepet amat, Nivea foaming cleanser ini boleh lah.

Rate: 2 (nice)

2. Nggak terlalu bikin kulit kering

Nivea foaming cleanser ini mengklaim ‘oil control‘, dan memang mengurangi minyak di wajah saya sih, tapi terlalu kering buat saya, kalau dibandingkan waktu saya pakai foaming cleanser saya yang biasa (trusty simple Hada Labo Shirojyun). Nggak yang kering banget sih, buat saya masih bisa ditoleransi, tapi mengingat kulit saya yang berminyak aja merasa begini, saya jadi nggak menyarankan cleanser ini kalau kulit kamu kering,

Rate : 1 (K, acceptable)

3. Memakai surfaktan yang cenderung ‘ringan’, nggak menggunakan SLS

Ah, ngecek komposisi, bagian favorit saya dalam me-review!

Nivea white make up clear foam ingredient

Berikut adalah analisis komposisis dari CosDNA.

Cleanser ini menggunakan beberapa tipe surfaktan (singkatnya, surfaktan adalah senyawa yang berfungsi untuk membersihkan pada cleanser kita) misalnya Potassium Myristate, Potassium Palmitate, Potassium Stearate, dan Potassium Laurate. Walaupun seberapa “ringan”-nya surfaktan tersebut saya nggak begitu paham, yang jelas nggak ada dari mereka yang datang dari “keluarga” surfaktan alkyl sulphates, yang saya tahu lebih ‘keras’ (SLS adalah anggota keluarga surfaktan ini. Gampang mengenalinya, karena di akhir namanya biasanya bunyinya ….-yl sulfate. Perlu digarisbawahi, ini berbeda dengan alkyl ether sulfates, misalnya sodium laureth sulfate/SLeS, yang justru lebih lembut buat kulit!)

Yang saya nggak paham, cleanser ini mengandung glycerin dan propylene glycol, yang keduanya adalah salah satu humektan favorit saya, jadi saya rada mengharap bahwa cleanser ini lebih berasa lembab, yang ternyata nggak sama sekali. Yah, ngecek komposisi memang cuma satu sisi cerita, masih ada pertimbangan bagaimana formulasi bahan-bahan dilakukan, yang sejauh ini masih misteri buat saya.

Cleanser ini juga mengandung sodium ascorbyl phosphate (SAP/vitamin C) dan ekstrak licorice untuk “mencerahkan”, tapi karena kebanyakan produk bakal berakhir di pembuangan air, lebih baik jangan berharap terlalu banyak.

Rate : 1 (K, acceptable)

4. Punya pH yang cenderung rendah

Saya melakukan tes pH dengan pH strip murah meriah saya. Begini hasilnya :

Nivea white oil control make up clear ph test

Sedihnya, pH cleanser ini tinggi banget, lebih deket ke pH 9 🙁 Ini bendera merah banget buat penganut sekte pemuja cleanser low-pH (termasuk saya) 🙁

Rate : 0 (nope)

Bonus points

1. Wanginya enak

Cleanser ini mengandung parfum, tapi wanginya nggak terlalu menyengat dan agak sulit diidentifikasi mirip sama apa. Saat menciumnya, yang terlintas di pikiran saya cuma “wanginya kayak sabun”, hahah. Buat saya sih lumayan oke, bahkan mungkin bakal ada yang suka sama wanginya, tapi kayaknya nggak cukup wow untuk jadi wangi favorit seseorang.

Rate : 1 (K, acceptable)

2. Tekstur yang enak

Nggak ada yang spesial mengenai teksturnya, menurut saya. Busa yang dihasilkan ukurannya cenderung kecil dan “berat”, jadi mungkin buat suka yang busanya besar dan terbang-terbang (?) ini kurang ideal. Saya sih nggak peduli-peduli amat sama busa, jadi buat saya oke aja.

Rate : 1 (K, acceptable)


OK, jadi kita sudah selesai memberi nilai pada performa foaming cleanser pada setiap kriteria. Meskipun begitu, beberapa kriteria lebih penting daripada yang lain, jadi kita harus mempertimbangkan itu. Gimana caranya? Saya memberi rating  pada kriteria berdasarkan pada taraf kepentingannya, jadi kriteria yang paling penting akan berbobot lebih tinggi daripada kriteria yang nggak penting-penting amat. Buat saya pribadi, kriteria paling penting adalah yang berkaitan langsung dengan keseimbangan kulit (jenis surfaktan, pH), sementara kriteria yang agak ‘sunnah’ berkaitan dengan pengalaman saya menggunakan produk (wangi, tekstur). Setiap orang punya kriteria dan prioritas yang berbeda, and that is perfectly fine!

(OKE SAYA LAGI LEBAY. Metode prioritisasi ini saya pakai di kerjaan asli saya [buat program kesehatan], dan ini gampang banget diaplikasikan ke konteks lain, seperti memilih cleanser, hahah. Tolong maklumin aja ya)

KRITERIA

TINGKAT KEPENTINGAN  SKOR KRITERIA

SKOR TOTAL

Menggunakan surfaktan yang ringan, tidak mengandung SLS  3 1 3
Punya pH rendah 3 0 0
Membersihkan kulit dengan baik 2 2 4
Nggak bikin kulit jadi kering 2 1 2
Wanginya enak 1 1 1
Teksturnya enak 1 1 1

TOTAL SKOR : 11 dari 30

SIMPULAN : Saya bakal balikin ini ke kamar mandi ibu saya.

…atau lebih baik lagi, saya bakal meyakinkan ibu saya untuk menggunakan cleanser lain yang bisa saya pakai juga, mhuaahahahahaha



“Tapi cleanser ini oke menurut kriteria saya kok, di mana saya bisa membelinya?”

Jangan khawatir, my friend, karena cleanser ini tersedia secara luas di supermarket (dan mungkin di minimarket) di sekitar Anda.

Kalau mau beli Online, produk ini dapat dibeli di berbagai platform e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia, juga di :
1. Nivea official shop di Lazada*

Pada saat review ini diterbitkan (April 2018), cleanser ini dijual seharga Rp 27.000 – Rp 30.000

 


Saya bilang apa di judul? Short(-ish) review? Huh, I officially cannot write anything short.

Anyway, apakah kamu pernah mencoba cleanser ini? Punya rekomendasi cleanser mana yang perlu saya coba berikutnya? Silakan tinggalkan komentar di bawah ini~

This Snarker loves comments! Please leave yours below

%d blogger menyukai ini: